Ulasan Unsur Fiksi dalam Cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” Karya Seno Gumira Ajidarma
Sumber: iPusnas
Identitas Cerpen
Judul Cerpen :
Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun Terbit :
2017
Penerbit :
Jogja Bangkit Publisher
Ulasan
Unsur Cerpen
Cerpen
“Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” merupakan salah satu cerepen karya Seno
Gumira Ajidarma. Cerpen ini menceritakan tentang keresahan warga yang tinggal
di suatu kampung. Warga, terutama kaum ibu-ibu merasa resah dengan kehadiran
sesosok perempuan muda yang menjadi salah satu warga di tempat tinggal mereka.
Keresahan itu hadir lantaran kebiasaan perempuan tersebut yang selalu menyanyi
saat sedang mandi di kamar mandi. Sebenarnya, perempuan itu tidaklah salah,
melainkan suami merekalah yang sebenarnya salah. Para bapak-bapak suami mereka
sering kali mengintip saat perempuan itu sedang mandi. Tak hanya itu, mereka
juga suka membayangkan perempuan itu dengan imajinasi yang sangat liar.
Ibu-ibu
yang merasa resah pun menyuruh Pak RT untuk menegur perempuan itu. Namun, saat
sudah ditegur dan menurut untuk tidak menyanyi di kamar mandi. Para suami masih
tetap mengintipnya. Mereka mengintip dari suara deburan air saat perempuan itu
sedang mandi. Dengan berat hati, Pak RT menyuruh si perempuan tersebut untuk
meninggalkan kampung tersebut. Pak RT merasa kasihan, karena perempuan itu
tidak bersalah. Setelah perempuan itu pergi dari kampung itu pun, para suami
masih suka berimajinasi. Ibu-ibu di kampung itu akhirnya memikirkan cara untuk
membahagiakan suami mereka saar di ranjang. Dan pada akhirnya, tercipatalah
peraturan untuk tidak mandi sambil bernyanyi di kampung ini.
Pada
artikel ini, cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” akan diulas dengan
berdasarkan pada unsur fiksi menurut Stanton. Menurut Stanton (1965 dalam
Nurgiyantoro, 2018:31-32) unsur fiksi terbagi menjadi tiga, yakni:
A.
Fakta Cerita
Fakta
cerita merupakan salah satu unsur atau hal-hal yang akan diceritakan pada suatu
karya fiksi (Sayuti, 2017: 68). Dalam sebuah cerita fiksi, fakta cerita dapat
meliputi tokoh (karakter), plot atau alur, dan latar (Nurgiyantoro, 2018: 31).
Berikut ini merupakan ulasan mengenai fakta cerita yang terdapat dalam cerpen
“Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”.
1. Tokoh dan Penokohan
Tokoh
dan penokohan merupakan salah satu unsur fiksi. Keberadaan tokoh dalam sebuah
cerita fiksi sangatlah penting. Tokoh akan merujuk pada seseorang atau pelaku
dalam sebuah cerita. Sementara itu, penokohan merujuk pada karakteriktik dan
perwatakan dari suatu tokoh. Penokohan merupakan suatu penggambaran yang jelas mengenai
seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones, 1068: 33 dalam
Nurgiyantoro, 2018: 247). Penokohan dapat mengacu pada karakter yang dimiliki
dari tokoh (Nurgiyantoro, 2018: 247). Berikut ini merupakan tokoh dan penokohan
yang ditemukan dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”.
a.
Zus
Zus merupakan sosok wanita
yang sangat diperbincangkan dalam cerita ini. zun digambarkan sebagai sosok
perempuan yang suka bernyanyi ketika sedang mandi. Ia tidak tau menau jika
dirinya menjadi bahan bapak-bapak untuk berfantasi liar tentangnya. Zus juga
digambarkan sebagai sosok yang cukup penurut. Ia mengikuti saran Pak RT untuk
berpindah tempat tinggal dan meninggalkan kampung ini.
b.
Pak RT
Dalam cerpen “Dilarang
Menyanyi di Kamar Mandi” tokoh Pak RT ini digambarkan sebagai sosok pemimpin
yang bisa dibilang kurang tegas dalam menegur dan mengambil tindakan. Hal itu
dapat dibuktikan ketika ia tidak menegur bapak-bapak yang mengintip kegiatan
mandi Zus. Saat hal itu terjadi, Pak RT tak langsung bertindak, karena merasa
perempuan itu tak bersalah. Namun pada akhirnya, Pak RT dapat mengambil
Keputusan yang setidaknya bisa mengurangi dan mencegah bapak-bapak untuk
bertindak tak senonoh.
c.
Bapak-bapak
Tokoh bapak-bapak digambarkan
dengan karakeristik yang hampir sama. Mereka digambarkan sebagai sosok suami
yang masih suka berbuat tidak senonoh dengan mengintip seorang perempuan yang
sedang mandi. Lebih tidak etis lagi saat mereka membayangkan dan berfantasi
liar mengenai perempuan itu. Baik setelah atau sebelum perempuan itu berhenti
bernyanyi di kamar mandi.
d.
Ibu-ibu
Tokoh ibu-ibu dalam dicerita
ini digambarkan hampir seperti ibu-ibu di kampung pada umumnya. Pengarang
menggambarkan ibu-ibu yang memiliki sifat suka bergosip. Mereka juga
digambarkan sebagai sekumpulan ibu-ibu yang cukup tegas, namun tidak cukup
bersabar.
e.
Hansip
Hansip juga menjadi salah satu
tokoh yang muncul dalam cerita ini. Tokoh hansip digambarkan sebagai sosok
tokoh yang cukup tanggap. Ia mengingatkan Pak RT jika perbuatan perempuan itu
menimbulkan keresahan dan kegaduhan, sementara Pak RT sendiri malah merasa
kasihan dan tidak enak hati.
2. Latar
Latar
merupakan sebuah unsur dalam fiksi yang digunakan untuk menggambarkan di mana
dan kapan peristiwa dalam sebuah cerita bisa terjadi, seperti tempat dan wakti
(Sayuti, 2017: 150). Adanya latar yang melatarbelakangi cerita dapat menjadi
pelengkap dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 2018: 302). Unsur latar dapat
dibagi menjadi beberapa macam, yakni lingkungan peristiwa, latar belakang yang
terlihat, waktu dalam sehari atau setahun, iklim atau cuaca, periode sejarah,
orang-orang yang melatarbelakangi.
Pada
cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” latar yang ditemukan, antara lain:
a.
Lingkungan
Peristiwa
Unsur lingkungan peristiwa ini
merupakan sebuah unsur latar yang digunakan untuk menggambarkan lingkungan
tempat peristiwa terjadi. Pada cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”
ditemukan beberapa bukti adanya unsur ini, antara lain:
‘derit pintu kamar mandi.’
‘mengarahkan telinganya ke lobang angin’
‘mengarahkan antena parabola ke Amerika’
‘Mengacungkan telunjuk di depan mulut.’
‘Paling mengasyikkan di dunia.’
‘Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas.’
‘Bunyi gayung menghajar bak mandi.’
‘Gesekan sabun ke tubuh yang basah.’
‘Di balik tembok’
‘Menciptakan sebuah dunia di kepala mereka’
‘Dalam perjalanan pulang’
‘sepanjang gang’
b.
Waktu dalam Sehari
atau Setahun
Unsur latar waktu dalam sehari
atau setahun ini menjadi unsur yang menggambarkan waktu terjadinya peristiwa.
Dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” ini ditemukan beberapa unsur
latar ini yang dapat dibuktikan pada kutipan sebagai berikut:
‘satu menit segera
lewat.’
‘kemarin sore’
‘pada jam-jam
tertentu’
‘sampai kapan ini
berlangsung?’
‘pada suatu sore’
‘rapat besar esok
harinya’
c.
Orang-orang yang
Melatarbelakangi
Unsur latar lain ialah
orang-orang yang melatarbelakangi. Unsur ini menggambarkan perilaku kehidupan
sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
Unsur orang-orang yang melatarbelakkangi dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di
Kamar Mandi” ini, antara lain:
1) Zus, sebagai tokoh yang dibicarakan.
2) Pak RT, sebagai pemimpin di kampung dalam cerita.
3) Bapak-bapak, sebagai para tokoh yang membuat
kericuhan.
4) Ibu Saleha, seorang tokoh yang membantu Pak RT untuk
membicarakan keresahan kepada Zus.
5) Ibu-ibu, sebagai tokoh yang merasakan keresahan.
6) Hansip, sebagai tokoh yang mengingatkan Pak RT.
3. Plot atau Alur
Menurut
Sayuti (2017: 69) plot merupakan sebuah cara pengarang dalam menyajikan atau
menggambarkan peristiwa-peristiwa yang ada dalam sebuah karya fiksi. Pada
cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” pengarang menggunakan alur campuran
dalam menggambarkan peristiwa dan kejadian yang ada dalam cerita. Penggambaran
peristiwa berawal dari saat Pak RT di ajak oleh Hansip utnuk menilik ke tempat
tinggal perempuan itu untuk melihat sendiri bagaimana bapak-bapak bersikap saat
perempuan itu tengah bernyanyi sembari mandi. Hal itu dapat dibuktikan dengan
percakapan berikut:
“Benar kan
Pak?”
“Betul kan Pak,
suaranya sexy sekali?”
“Betul kan Pak,
suaranya menimbulkan imajinasi yang tidak-tidak”
Ketiga
perkataan tersebut diucapkan oleh Hansip kepada Pak RT. Kemudian, dilanjutkan
dengan kilas balik peristiwa di sore hari, ketika ibu-ibu mengadu kepada Pak
RT. Alur flashback atau kilas balik ini dapat dibuktikan pada salah satu
paragraph dalam cerita, yakni:
‘Kemarin sore,
ibu-ibu warga sepanjang gang itu memang memenuhi rumahnya. Mereka mengadu
kepada Pak RT, bahwa semenjak terdengar nyanyian di kamar mandi rumah Ibu
Saleha pada….’
Setelahnya,
pengarang kemabali dengan alur maju. Hal itu dapat dibuktikan pada salah satu
narasi dalam cerita, yaitu:
‘Pada suatu sore
Hansip melapor.’
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa, dalam menggambarkan peristiwa dan kejadian yang
terjadi dalam cerrita. Pengarang menggunakan alur manju dan mundur. Alur ini
juga lebih sering disebut dengan alur campuran. Hal itu karena, alur campuran
ini menceritakan kronologis yang sedang terjadi dalam cerita dan juga kilas
balik atau flashback.
B.
Sarana Cerita
Sarana
sastra digunakan pengarang untuk memilih dan menata detail-detail dalam cerita.
Dalam sebuah cerita fiksi, sarana cerita terdiri atas judul, sudut pandang,
serta gaya bahasa dan nada (Sayuti, 2017: 167).
1. Judul
Judul merupakan elemen lapisan luar sebuah karya yang
paling diperhatikan oleh pembaca (Sayuti, 2017: 167). Judul yang ditampilkan
diharapkan bisa memberikan gambaran pembaca mengenai isi dalam sebuah cerita. Dalam
cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, judul yang diberikan sangat
mencerminkan cerita di dalamnya. Mungkin, pembaca baru akan berpikir apa yang
menjadi penyebab menyanyi itu dilarang saat mandi. Beberapa dari mereka juga
mungkin ada yang mengaitkannya dengan hal-hal ghaib. Dan kemudian, mereka akan
menemukan jawabannya dalam cerita ini.
2. Sudut Pandang
Sudut pandang atau yang bisa disebut dengan sebutan point
of view adalah salah satu unsur yang terdapat dalam sarang cerita. Sudut
pandang ini merujuk pada sebuah cara yang digunakan oleh pengarang dalam
menceritakan jalannya peristiwa dalam cerita. Dalam sebuah cerita, sudut
pandang menegaskan tentang siapa yang menceritakan atau dari posisi mana
peristiwa dan tindakan dalam cerita terlihat (Nurgiyantoro, 2018: 336). Pada
cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, sudut pandang yang terlihat atau
digunakan pengarang untuk menggambarkan cerita adalah sudut pandang orang
ketiga. Hal itu dapat dibuktikan pada penggunaan sebutan Pak RT, ibu-ibu,
seamu, Hansip, dan Zus. Sebutan tersebut merupakan sebutan nama yang termasuk
ke dalam jenis sudut pandang persona atau orang ketiga.
3. Gaya Bahasa dan Nada
Unsur ini menjadi salah satu unsur yang berfungsi
untuk menceritakan sebuah cerita. Penggunaan bahasa dan nada juga menjadi unsur
penting, karena dalam setiap narasi ataupun dialog tentu diperlukan adanya sebuah
gaya penggunaan bahasa dan nadanya. Pada cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi” ini menggunakan gaya bahasa yang cukup santai dan biasa ditemukan di
kehidupan sehari-hari kita. Dalan cerpen ini juga terdapat penggunaan bahasa
yang cukup frontal dan vulgar. Penggunaan nada juga ditemukan pada cerita ini,
yakni pada kata “Tolongngngngng!” yang banyak terlihat adanya pengulangan penulisan ‘ngngngngng!’
dan menjadi sebuah ungkapan atau ekspresi.
C. Tema
Pengertian
sederhana mengenai tema menurut Sayuti (2017: 199) adalah sebagai makna cerita,
gagasan sentral, atau dasar dalam sebuah cerita. Tema dalam sebuah prosa fiksi
biasanya mengacu pada alasan tindak atau motif dari tokoh yang ada dalam cerita
itu sendiri. Tema juga menjadi pengikat dari keseluruhan cerita agar tidak
membahas cerita yang tidak sesuai. Dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi” ini ditemukan latar yang sering digambarkan, yakni tema keresahan,
kegelisahan, dan bisa juga dikatakan bertema pelecehan nonverbal. Hal itu tentu
dapat dilihat dari bagaimana tokoh menunjukkan sikap-sikap tersebut dalam
setiap peristiwa pada cerpen ini.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Sebagai
sebuah karya sastra atau karya fiksi. Cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”
ini tentu memiliki kelebihan yang menjadi daya tarik pembaca agar mau untuk
membaca. Serta, juga pasti terdapat kekurangan yang dapat menjadi bahan
pengarang untuk memerbaiki dan menyempurnakan karya-karyanya. Hal-hal dalam
cerita yang menjadi kelebihan dalam cerpen ini, yakni cerpen ini dapat menjai
pengajaran bagi pembacanya untuk tidak bernyanyi di saat kita sedang mandi di
kamar mandi.
Sementara
itu, kekurangan yang ada dan ditemukan dalam cerita ini terbilang cukup banyak.
Dimulai dari penggunaan bahasanya yang terlalu frontal dan dewasa. Cerpen ini
juga menceritakan perilaku buruk yang mungkin akan ditiru oleh pembacanya. Oleh
karena itu, cerpen “Dilarang Menyayi di Kamar Mandi” merupakan cerpen yang
sesuai untuk dibaca remaja atau dewasa. Cerpen ini tentu tidak akan cocok untuk
anak-anak. Terutama pada bahasa dan perilaku tokohnya yang dapat ditiru oleh
anak-anak, karena belum mengerti dan bisa membedakan tindakan baik buruknya.
DAFTAR PUSTAKA
Ajidarma, Seno
Gumira. 2017. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Yogyakarta: Jogja
Bangkit Publisher.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sayuti, Suminto A.
2017. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.


Ulasannya sangat lengkap dan bermanfaat
BalasHapuswah menarik ini, mengulas cerpen pak seno gumira
BalasHapusWaaa keren! Baru tau ada cerpen ini
BalasHapuswahh menarik
BalasHapusmenarik sekali
BalasHapus