Menelisik Kebiasaan Manusia Seiring dengan Berkembangnya Zaman Melalui Puisi Karya Joko Pinurbo
Joko
Pinurbo merupakan seorang penyair dari Yogyakarta yang lahir di Sukabumi pada
11 Mei 1962. Orang-orang juga kerap memanggilnya dengan sapaan Jokpin. Banyak
dari karya-karyanya yang populer dan di kenal banyak orang. Salah satu karyanya
adalah antologi puisi Telepom Genggam. Dalam buku ini, terdapat kurang lebih 30
puisi. Puisi-puisi tersebut memiliki ciri khas penulisan yang berbeda antara
satu puisi dengan puisi lainnya. Beberapa puisi yang terdapat dalam buku ini,
yaitu “Telepon Genggam”, “Panggilan Pulang”, “Laut”, “Selamat Ulang Tahun,
Buku”, “Rendezvous”, “Ibu Yang Tabah”, dan masih banyak lagi. Kali ini,
terdapat dua puisi dari buku Telepon Genggam yang akan di bahas, yakni “Selamat
Ulang Tahun, Buku” dan “Laut”.
Puisi pertama yang berjudul “Selamat
Ulang Tahun, Buku” merupakan salah satu puisi karya Joko Pinurbo. Puisi ini
dapat ditemukan pada halaman 33 dalam buku antologi puisi Telepon Genggam karya
Joko Pinurbo. Puisi ini menceritakan tentang sebuah buku yang berkembang dari
waktu ke waktu menjadi semakin keren dan cerdas. Pada bait pertama, dengan larik berikut ini:
Selamat ulang tahun,
buku.
Makin lama kau makin
keren saja.
Tambah cerdas pula.
Aku saja yang tambah
payah
Dan
sekarang mulai pelupa.
Bait
ini berisi atau ungkapan dari isi hati penyair
mengenai perkembangan buku yang kian hari semakin keren dan cerdas. Hal itu
ternyata berbanding terbalik dengan manusia. Banyak dari mereka semakin hari
berlalu malah menjadi pelupa sehingga menjadikan mereka seorang yang payah. Kemampuan
yang kita miliki dan banggakan dulu, kini hanya menjadi sebuah kenangan. Akibat
dari otak yang sudah tak lagi bisa berpikir seperti dulu. Penggunaan majas juga terdapat dalam puisi ini yang
dapat dilihat pada bait kedua dengan larik sebagai berikut:
Maaf, aku tak bisa kasih
hadiah apa-apa
selain jumlah ralat dan
catatan
yang aku tak tahu akan
kutaruh di mana
sebab kau sudah pandai
meralat
dan
menceritakan dirimu sendiri.
Majas yang terdapat dalam bait seakan sesperti menggambarkan
buku yang
seolah hidup karena dapat meralat serta menceritakan dirinya sendiri. Manusia
merasa perkembangan buku yang semakin bagus dan keren. Manusia hanya bisa
memberikan hadiah, apresiasi atau penghargaan dengan memberikan goresan, ralat,
dan coretan pada lembaran kertas pada buku. Hanya itu yang dapat mereka lakukan
sebagai bentuk menghargai tulisan. Puisi juga memberikan sedikit
lelucon yang digambarkan dengan perasaan curiga terhadap buku. Sedikit lelucon tersebut dapat ditemukan pada bait
ketiga dengan larik:
Kau bahkan sudah tak
seperti dulu
ketika aku berdarah-darah
menulismu.
Jangan-jangan
kau pangling denganku.
Kecurigaan apakah buku merasa lupa
dan pangling kepadanya. Hal itu dirasakan setelah menyadari buku yang
ditulisnya dengan berdarah-darah dulu, kini tidak lagi. Dengan adanya setitik
gelak humor ini, pembaca bisa merasa sedikit lebih tenang ketika membaca buku. Penulis juga memberikan sebuah ucapan
selamat ulang tahun kepada buku. Seperti
yang terlihat pada larik berikut ini:
Selamat ulang tahun, buku.
Anggap saja aku kekasih
atau pacar malangmu.
Selamat panjang
umur, cetak ulang selalu.
Ia mengungkapkan ingin dianggap
sebagai pacar atau kekasih yang malang saja. Penulis juga mengharapkan agar
buku akan terus ada dan terus dicetak ulang. Dengan begitu, hidup buku akan
menjadi lebih lama karena pembaca yang diperoleh semakin banyak pula.
Kesan saya setelah membaca puisi
“Selamat Ulang Tahun, Buku” ini adalah saya bisa merasakan hal yang disampaikan
oleh penyair dalam puisi ini. Saat ini, buku sudah mengalami perubahan dan
perkembangan yang cukup pesat. Seiring dengan berkembangnya zaman, kualitas
dari isi buku tentunya semakin berkembang. Isi-isi yang ada dalam buku juga
semakin bagus. Bentuk dan tampilan dari buku juga semakin beragam yang
menjadikannya menarik. Berbeda dengan buku, saya berpikir jika otak malah
sedikit menunjukkan penurunan daya pikir. Kepintaran dan kreativitas yang dulu
dimiliki, kini tak lagi sama seperti dulu. Saya juga berharap sama dengan
penulis. Semoga buku bisa terus ada dan dicetak ulang serta dapat berkembang
menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Puisi
kedua, yakni “Laut”. Puisi ini dapat ditemuka pada halaman 13 buku antologi puisi
Telepon Genggam karya Joko Pinurbo. Puisi ini mengisahkan tentang teknologi telepon genggam dan laut.
Seperti pada bait pertama dengan larik:
Sekali-kali telepon genggam
perlu diajak piknik atau jalan-jalan.
Ke Pantai, misalnya. Supaya makin luas
pandangannya. Makin lepas jangkauannya.
Larik
pada bait ini seperti menggambarkan sebuah ungkapan
perasaan akan manusia yang kini menjadi sosok individu
yang terobsesi dengan adanya teknologi, seperti telepon genggam ini. Manusia seakan lupa dengan hal-hal lain saat sudah
bersama alat kesenangannya itu. Penulis seperti memberikan saran kepada pembaca
untuk istirahat sejenak dengan dunia yang ada dalam telepon genggam. Hal itu
juga dilakukan untuk menjaga kewarasan telepon genggam itu sendiri. Salah satu
saran penulis adalah dengan membawanya pergi piknik ke pantai. Penulis
memberikan gambaran sebuah kegiatan berpiknik di pantai yang dapat dilihat dari
lirik pada bait kedua, yakni:
Di pantai ia jatuh cinta pada laut.
Ia memanggil-manggil nama laut,
tapi suaranya
lenyap ditelan laut.
Larik ini bisa menggambarkan seseorang
yang tengah jatuh cinta pada laut hingga memanggilnya, meskipun suaranya tak
terdengar lenyap ditelan oleh lautan luas. Hal itu juga bisa terlihat pada
kehidupan nyata. Saat seseorang memanggil orang lain yang sedang sibuk dengan
dunianya sendiri dalam telepon genggamnya, namun orang yang dipanggilnya itu
tidaklah mendengar panggilan tersebut.
Kemudian,
puisi ini juga memberikan gambaran keadaan ketika sedang bersantai di atas
pasir pantai. Ketika berbaring saja, telepon akan tetap hidup dan sibuk untuk
memotret dan merekam berbagai macam hal, seperti awan dan desir air.
Digambarkan juga di kala kita beristirahat, tetapi telepon tetap menyala dan
akan terus mendengarkan bisikan atau gemuruh ombak. Gambaran ini dapat terlihat
pada lirik di bait ke tiga, yakni:
Aku tiduran di atas pasir
sementara telepon genggam sibuk
memotret awan dan air, merekan derai
dan desir. “Silakan kau latihan mati,”
katanya. “Aku mau bergadang.
Mendengarkan
bisikan-bisikan laut.”
Penggambaran
kebiasaan manusia yang masih tetap bermain telepon genggam, meskipun mereka
sedang dalam keadaan sakit. Kala tubuh merasa tidak baik, telepon pun akan
tetap menggoda kita untuk terus memakainya. Hal itu digambarkan dalam lirik
pada bait keempat, yakni:
Sekarang,
bila aku sakit,
telepon genggam suka menggodaku
dengan suara angin dan ombak.
Lalu ia perlihatkan profil bulan
yang malu-malu, profil ajal
yang diutus waktu. Dalam demam
tiba-tiba aku
mendengar gemuruh laut.
Pada
intinya, puisi ini memberikan gambaran akan keadaan dan kehidupan manusia di
saat ini. Ketika semua orang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dunia yang
dimaksud adalah dunia maya atau dunia yang ada terdapat dalam telepon genggam
tersebut. Zaman sekarang ini, orang-orang sibuk berselancar di media sosial. Mereka
bisa melakukannya berjam-jam bahkan tak melihat dan ingat waktu. Hal itu
menjadikan mereka lupa akan dunia nyata disekitar mereka. Begitu juga dengan
alam yang juga mereka lupakan. Mereka juga akan melupakan kegiatan yang
seharusnya mereka lakukan. Mereka bermain telepon hingga tidak mengingat waktu
dan beristirahat barang sejenak.
Kesan
saya setelah membaca dan menginterpretasi puisi “Laut” ini adalah saya bisa
mengetahui situasi yang sekarang ini tak asing untuk dijumpai. Di sekitar saya
pun terdapat banyak orang yang jika sudah asik dengan telepon genggamnya akan
melupakan hal-hal lain di sekitarnya. Bahkan, saya juga bisa dikatakan termasuk
ke dalam golongan orang-orang tersebut. Saat saya sudah, bermain dengan smartphone,
saya bisa memainkannya untuk seharian penuh tanpa henti. Dengan smartphone
tersebut saya bisa mencari hiburan seperti menontoh video-video yang ada di
media sosial.
Saya
juga sering menggunakan smartphone seharian hanya untuk membaca sebuah
bacaan atau cerita yang diunggah oleh orang di internet. Saya merasa saya hanya
akan berhenti jika sedang tidur saja. Diberbagai kegiatan, saya selalu mencuri
waktu untuk menggunakan smartphone. Dengan membaca puisi ini, saya
menyadari pentingnya istirahat dari dunia maya. Saya juga menjadi paham
pentingnya untuk selalu ingat hal-hal disekitar saat kita sedang menyelam di
internet. Jadi, saya juga akan mencoba untuk mengubah pola kebiasaan dengan
perlahan.
Dari
kedua puisi yang telah saya baca, yakni “Selamat Ulang Tahun, Buku” dan “Laut”.
Memiliki makna pokok yang hampir sama. Kedua puisi berisi hal-hal yang manusia
zaman sekarang sering lakukan. Puisi pertama “Selamat Ulang Tahun, Buku” yang
menceritakan keadaan yang saat ini tidak asing dengan kita. Ketika banyak orang
yang mulai melupakan buku ataupun memori mereka tentang pengetahuan yang mulai
memudar.
Sementara
itu, puisi “Laut” yang mencertiakan tentang manusia yang saat ini tidak dapat
dipisahkan dengan yang namanya telepon genggam. Mereka akan menyempatkan waktu
untuk bermain dengan telepon itu. Bahkan, disaat mereka sedang tidak baik dan
sehat, mereka masih tetap bermain dengannya. Membuka berbagai hal di telepon
hingga melupakan semua hal yang ada di dunia nyata. Hanya akan membuang-buang
waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat
daripada hanya memandangi telepon saja. Kedua puisi ini bisa menjadi pengingat
untuk para manusia yang mulai meninggalkan buku dan hal-hal penting lainnya.
Mengingatkan untuk senantiasa ingat hal-hal yang harus mereka lakukan untuk
keberlangsungan hidup mereka sendiri.



Baguss isinya😍
BalasHapusPuisinya jokpin memang bagus. Analisisnya juga keren
BalasHapuskarya pak jokpin emang ga kaleng" sii
BalasHapusMembaca ini seperti sedang berkaca! Jadi sebuah pengingat
BalasHapusrelate bgt sih ini
BalasHapusJadi pengen baca
BalasHapus