Resensi Film: Budi Pekerti

 

 

Gambar 1. Poster Film Budi Pekerti

Sumber: https://id.wikipedia.org

Identitas Film

 

Judul                

: Budi Pekerti

Durasi              

: 1 jam 50 menit (110 menit)

Sutradara          

: Wregas Bhanuteja

Produser                       : Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Willawati, dan Nurita Anandia W.

Penulis Skenario

 : Wregas Bhanuteja

Pemeran

: Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, Omara Esteghlal, dan Ari Lesmana

Rilis                  

: 2 November 2023 (Seluruh Indonesia)

Produksi           

: Rekata Studio dan Kaninga Pictures

 

Sinopsis Film

        Budi Pekerti merupakan sebuah film yang diproduksi oleh Rekata Studio dan Kaninga Pictures. Film ini diliris secara resmi untuk seluruh Indonesia pada 2 November 2023 lalu. Film Budi Pekerti ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang tinggal di Gunung Kidul. Sebuah keluarga yang terdiri dari 4 orang yakni, Ibu Prani Siswoyo yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti, Bapak Didit Wibowo yang diperankan oleh Dwi Sasono, Muklas Waseso yang diperankan oleh Angga Aldi Yunanda, dan Tita Sulastri yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. 

        Film ini menceritakan kisah perjuangan seorang ibu yang juga menjadi guru SMP, yakni Bu Prani. Dalam film ini, keluarga Bu Prani diceritakan tengah mengalami masalah ekonomi yang diakibatkan dari adanya pandemi Covid-19. Ditambah dengan keadaan sang suami, yakni Bapak Didit yang sedang mengalami masalah mental karena mengidap Bipolar. Bu Prani ini merupakan seorang ibu yang tangguh. Ia juga menjadi sosok guru yang tegas dan berwibawa. Bu Prani ini memberikan pelajaran kepada muridnya yang nakal dengan sebuah refleksi diri. Bu Prani bekerja dengan sungguh-sungguh untuk membiayai pengobatan suaminya ke psikeater. Karena Bu Prani menjadi guru yang dinilai bagus, Bu Prani akan diangkat jabatannya menjadi wakil kepala sekolah di SMP dia mengajar. 

        Keberuntungan tidak berpihak pada Bu Prani di hari itu. Di hari ketika ia hendak membelikan putu kesukaan dia dan suamninya di pasar. Putu itu terkenal enak, sehingga banyak orang yang mengantre untuk membelinya. Untuk mengantre pun harus menggunakan nomor urut. Pada saat menunggu nomor gilirannya untuk dipanggil. Bu Prani merasa kesal karena banyak orang yang menitipkan pesanan mereka kepada orang yang mempunyai antrean lebih kecil agar mereka didahulukan. 

        Puncaknya adalah saat ada seorang bapak yang menitipkan putunya pada orang yang mempunyai nomor antrian beberapa nomor sebelum nomor Bu Prani. Bu Prani yang sudah merasa sangat jengkel pun, lekas menegur bapak itu. Namun, bapak yang ditegur itu malah menyangkal jika dia tidaklah menyerobot tetapi, hanya menitipkan pesanannya pada kerabatnya. Bu Prani tetap teguh dengan pendiriannya bahwa, bapak itu memang menyerobot antrian. Karena sudah kepalang emosi, Bu Prani akhirnya menegur bapak-bapak tersebut dengan suara yang sedikit ditinggikan hingga menimbulkan kehebohan. Banyak orang yang merasa penasaran dan mulai memotret kejadian tersebut. Sebagian dari mereka mengunggahnya ke laman internet. Pada akhirnya, video tersebut menjadi viral hingga ke berbagai penjuru negeri.   

        Berawal dari situlah keluarga Bu Prani mendapatkan masalah yang muncul secara berurutan. Semua masalah yang menimpa keluarganya berkaitan dengan munculnya video viral perselohan antar Bu Prani dan bapak pembeli. Netizen menganggap sikap Bu Prani itu tidak mencerminkan seorang guru yang teladan. Bu Prani akhirnya mendapatkan banyak kecaman dan komentar negatif dari netizen. Tak hanya menyerang Bu Prani dengan berbagai hinaan saja, namun juga menyerang keluarga Bu Prani termasuk suami dan kedua anaknya. 

Bu Prani dan anak-anak melakukan berbagai cara untuk membela diri. Namun, semua pembelaan yang mereka lakukan berujung menjadi boomerang bagi mereka. Hidup yang mereka jalani pun menjadi tidak tenang. Semua yang mereka lakukan akan selalu salah di mata netizen. Pekerjaan yang ditekuni Bu Prani dan kedua anaknya juga menjadi terancam. Hingga pada akhirnya, Bu Prani memilih untuk mengundurkan dirinya dari sekolah yang selama ini menjadi ladangnya untuk mencari pundi rupiah. Keluarga Bu Prani akhirnya memilih untuk meninggalkan kediaman mereka.

 

Kelebihan

Film Budi Pekerti ini disajikan dengan pengambilan videografi yang bagus dan telihat hangat. Bahasa Jawa banyak digunakan dalam di film ini, meskipun sebagian besarnya adalah bahasa Jawa ngoko. Dengan adanya penggunaan bahasa Jawa dalam film, dapat menjadi upaya melestarikan bahasa Jawa. Film ini juga dilengkapi dengan takarir bahasa Indonesia, sehingga penonton yang tidak mengerti bahasa Jawa dapat memahami pembicaraan para tokoh di film ini. Situasi yang digambarkan dalam film ini sangat relevan dengan situasi yang ada saat ini. Situasi disaat orang-orang bisa dengan mudah mempercayai berbagai informasi yang terseber di internet tanpa mencari benar atau salahnya berita tersebut. Tak hanya ketegangan saja yang disajikan dalam film ini. Dalam film ini juga terdapat setitik komedi yang dapat memunculkan gelak tawa penontonnya. Kisah perjuangan Bu Prani dalam mendidik, menjadi ibu, dan memberrla dirinya juga menjadi salah satu nilai tambahan dalam film ini. 

 

Kekurangan

            Film Budi Pekerti ini memiliki akhir yang abu-abu. Hal itu menjadi salah satu kekurangan dalam film ini. Film ini hanya menyeritakan sampai Bu Prani mengundurkan diri dari sekolah dan keluarganya yang pergi meninggalkan kediaman mereka. Film ini tidak memiliki resolusi semestinya seperti yang diharapkan oleh penonton. Tak adanya resolusi yang menutup masalah pada film ini membuat penonton merasakan kekecewaan.

 

Kesimpulan

            Film Budi Pekerti ini merupakan sebuah film yang cocok untuk ditonton oleh anak dewasa, mulai dari usia 13 tahun ke atas. Film ini tidak cocok untuk disajikan pada anak-anak karena, menceritakan perjuangan seorang guru yang bernama Parni dalam mengahapi berbagai permasalahan yang menimpa keluarganya secara terus-menerus. Perjuangan untuk mecari pembelaan dan keadilan dengan melakukan berbagai cara yang berujung sia-sia. Akibat dari masalah yang menimpa Bu Prani adalah hidup keluarganya yang menjadi tidak tenang. Banyak kecaman yang diberikan netizen untuk keluarga Bu Prani. Karena banyaknya kecaman, hinaan yang diterima keluarganya, Bu Prani rela mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun, tidak ada resolusi yang menutup cerita. Ending film ini masih abu-abu menggantung. 



Komentar

  1. Film ini sangat cocok ditonton untuk anak gen Z😙

    BalasHapus
  2. keliatan menarik filmnya, jadi pengen nonton. kapan ya tayang perdananya di bioskop?

    BalasHapus
  3. Terima kasih banyak resensinya. Jadi punya gambaran lebih tentang filmnga, menarik. Baru pengen nonton tapi ragu terkait ceritanya

    BalasHapus

Posting Komentar